Budidaya rumput laut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Serangan selama puluhan tahun. Namun dalam beberapa tahun terakhir, para petani menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan kondisi laut hingga serangan hama yang memengaruhi hasil panen.
I Nyoman Puja, Ketua Kelompok Petani Rumput Laut Serangan, menjelaskan bahwa hasil panen terus menurun akibat gangguan hama yang menyerang bibit rumput laut sebelum masa panen. Meski demikian, para petani tetap mempertahankan tradisi budidaya yang telah menjadi bagian dari identitas dan sumber penghidupan masyarakat setempat.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, dukungan dari berbagai pihak, termasuk PT Bali Turtle Island Development (BTID), turut membantu aktivitas para petani. Infrastruktur jalan dan jembatan yang tersedia kini memudahkan proses pengangkutan hasil panen, sehingga lebih efisien dibandingkan sebelumnya yang hanya mengandalkan jalur laut.
Selain menjual hasil panen, masyarakat Serangan juga mengolah rumput laut menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti agar-agar, jajanan tradisional, rujak bulung, dan lawar laut yang menjadi bagian dari warisan kuliner lokal.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, BTID mendukung upaya menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir sekaligus melestarikan tradisi budidaya rumput laut yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan dan budaya Serangan.













