DENPASAR – Volume sampah di Kota Denpasar mencapai sekitar 1.033 ton per hari. Tingginya produksi sampah tersebut mendorong lahirnya berbagai upaya untuk memperkuat pengelolaan sampah digital di Denpasar sekaligus mendorong pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Salah satunya melalui peluncuran Serangan Non-Organic Waste Initiative (SNOWI) yang dikembangkan PT Bali Turtle Island Development (BTID) bersama Desa Adat Serangan.
Program ini menghadirkan sistem pengelolaan sampah anorganik yang mengintegrasikan proses pengumpulan, penimbangan, pencatatan digital, penyimpanan sementara, hingga penyaluran ke mitra daur ulang.
SNOWI Hadirkan Sistem Pengelolaan Sampah Digital
Perwakilan Nukari, I Wayan Patut, mengatakan salah satu keunggulan SNOWI adalah sistem berbasis web yang memungkinkan seluruh proses pengelolaan sampah terdokumentasi secara digital.
Melalui platform tersebut, data anggota, jenis sampah, berat sampah, hingga riwayat transaksi dapat dipantau secara real time.
“SNOWI itu kan simpel ya. Simpelnya, masyarakat secara umum bisa tahu bagaimana menggunakan aplikasi. Nah, yang selanjutnya adalah perbedaan yang menonjol itu adalah data pengelolaan sampah mereka terekam di aplikasi,” kata I Wayan Patut di Denpasar, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, sistem tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber.
Sampah Bisa Menjadi Tabungan
Staf Ahli Wali Kota Denpasar Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anak Agung Ngurah Oka Wiranata, mengatakan peningkatan aktivitas masyarakat ikut mendorong bertambahnya volume sampah di Kota Denpasar.
“Meningkatnya aktivitas ekonomi, jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari juga terus bertambah, bila kita mengetahui jumlah sampah di Kota Denpasar itu mencapai 1.033 ton per hari,” ujar Oka.
Menurut Oka, setelah masa uji coba sekitar satu bulan, SNOWI diharapkan dapat bekerja sama dengan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Serangan sehingga hasil penukaran sampah dapat langsung disimpan sebagai tabungan masyarakat.
“Saya yakin dengan komitmen yang kuat dari Jro Bendesa dan Desa Adat Serangan, inisiatif ini akan ditularkan dengan mekanisme yang seperti ini,” katanya.

Dorong Kebiasaan Memilah Sampah
Jro Bendesa Adat Serangan I Nyoman Gede Pariatha mengatakan pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Ia menjelaskan, mekanisme insentif dalam program ini juga berubah. Jika sebelumnya warga menerima beras sebagai hasil penukaran sampah, ke depan nilai sampah yang disetorkan akan dapat disimpan dalam bentuk tabungan di LPD.
“Sebelumnya sampah ditukarkan dengan beras setiap bulannya, dan sekarang beda. Masyarakat nantinya bisa menabung di Lembaga Perkreditan Desa dan akan dibuatkan buku tabungan. Kita kerja sama dengan putra-putri di Serangan yang memiliki kemampuan untuk terus melakukan yang terbaik,” ujar Pariatha.
Sebelum diluncurkan, SNOWI telah diuji coba di SMP Negeri 11 Denpasar. Salah seorang siswa, Kana, mengaku program tersebut membantu siswa belajar memilah sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi sekolah.
“Senang ya, kita bisa tabung uangnya untuk tabungan OSIS, belajar memilah sampah juga. Semoga programnya jalan dengan lancar ya. Kalau ada event juga kita pakai uang hasil tukar sampah ini,” ujar Kana.
BTID berharap SNOWI tidak hanya mendukung kebersihan kawasan pesisir Pulau Serangan, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekonomi sirkular sekaligus membangun kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Sumber: Kompas.com













