Tutup

Forum AI dan Kepemimpinan Digelar di KEK Kura Kura Bali, Dorong Ekosistem Digital Inklusif

  • Berita
  • 22 Apr 2026

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali kembali menjadi ruang dialog strategis lintas sektor melalui rangkaian kegiatan yang menggabungkan inovasi teknologi dan penguatan karakter kepemimpinan. Kegiatan ini digelar di UID Bali Campus, Sabtu (18/4/2026).

Forum utama bertajuk “The Power of AI: Transforming Sustainable Enterprise and Entrepreneurship” diselenggarakan oleh Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) bersamaan dengan wisuda program Happy Digital X (HDX) Cohort 3.0. Program ini merupakan pendidikan eksekutif selama 12 minggu yang berfokus pada transformasi digital, kepemimpinan, dan keberlanjutan.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dalam forum tersebut menegaskan pentingnya regulasi kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab. “Kebutuhan akan regulasi AI yang kuat dan bertanggung jawab bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak,” ujarnya.

Ia menyebut pemerintah tengah menyiapkan peta jalan AI nasional beserta kerangka etika melalui kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, penguatan aspek regulasi menjadi kunci agar pemanfaatan teknologi tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

Sementara itu, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM, M. Riza A. Damanik, menekankan pentingnya adopsi teknologi oleh pelaku usaha, khususnya UMKM. “Masa depan ekonomi bergantung pada kemampuan menerapkan teknologi dengan disiplin dan kreativitas,” katanya.

Forum ini juga menghadirkan sejumlah pemimpin teknologi global yang membahas potensi Bali sebagai pusat pengembangan ekosistem AI. Head of Technology AWS Indonesia, Donald Tirtaatmadja, menyatakan komitmennya mendukung Bali sebagai destinasi konferensi teknologi tingkat global, termasuk pengembangan Coders Village dan forum tata kelola AI.

Sejumlah pembicara lain, seperti Amit Gupta dan Dr. Peter D. Finn, menilai Bali memiliki posisi strategis dalam mendorong gerakan kewirausahaan AI yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai selaras dengan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas.

Di sisi lain, Yayasan United In Diversity (UID) juga menggelar lokakarya kepemimpinan bertajuk “Memimpin dengan HATI” yang melibatkan 45 siswa SMA di Bali. Kegiatan ini difokuskan pada pembentukan karakter pemimpin muda melalui pendekatan empati dan kesadaran diri.

Direktur UID Bali Campus, Shobi Lawalata, menekankan pentingnya keseimbangan antara intelektualitas dan empati dalam kepemimpinan di era digital. “Pemimpin masa depan harus mampu menyelaraskan kepala, hati, dan tindakan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan juga diperkuat dengan ajang Regional Practice Round World Scholar’s Cup yang mempertemukan siswa dari berbagai sekolah internasional. Kompetisi ini melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi generasi muda.

Digelar bertepatan dengan Hari Tumpek Landep, kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara teknologi dan nilai spiritual. KEK Kura Kura Bali pun semakin menegaskan posisinya sebagai pusat kolaborasi inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pembangunan karakter dan keberlanjutan.

whatsapp